J-Rockstars (JRS) Madiun - Jawa Timur ini, Hendri J.A, luar biasa. Ia rela menempuh jarak ratusan kilometer sendirian untuk menyampaikan simpati dan mengenang JRS yang tak kalah luar biasanya. Gery Noor Esha. Ia banyak membawa cerita dan kenangan yang ingin dibagi dengan JRS lain.
Sebuah kabar (02/03/11) yang aku dengar dengan rasa tidak percaya. Seorang sahabat yang aku kenal dari spirit-nya ‘pergi’ selamanya meninggalkan kita. Seketika terbesit di benakku adalah berangkat menuju rumahnya dan mengantarnya menuju ‘rumah’ terakhirnya. Tapi keadaan yang tidak mendukungku. Aku mengotak-atik semua jadwal keseharianku, mulai dari kerjaan dan yang lain. Aku meminta izin untuk libur, dengan menahan tangis aku memberanikan diri meminta izin.
Alhamdulillah, dengan semangat menggebu-gebu Aku sendirian ke Demak. Tetap ber-spirit. Setibanya di Demak, aku ditemani seorang anggota JRSC Demak. Diantarkan menuju rumah Gery. Setibanya di rumah Gery aku disambut dengan ramah oleh keluarganya. Mereka ramah seperti sosok Gery yang sangat ramah dan baik. . "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," pepatah itu. Setelah acara tahlil kami berdua berbincang-bincang hingga ayah almarhum bercerita. Simak ceritanya di bawah ini :
Gery Sakit
Ceria dan semangat, itulah Gery. Ayahnya bercerita bahwa dia sosok yang tidak mau dikasihani dan tidak mau melihat orang di sekitarnya bersedih. Suatu saat dia sedang kuliah dan kelasnya berada di lantai 3. Dia sedang melangkah susah payah menuju kelasnya dengan memakai tongkat. Teman-temannya yang bermaksud membantu. Ia menolak, "Maaf, saya bisa sendiri,” sambil memamerkan senyum khasnya.
Dia divonis Dokter menderita osteosarkoma atau kanker tulang. Satu-satunya jalan untuk untuk menyembuhkan ialah amputasi. Pihak keluarga berfikir selama satu tahun untuk memutuskan pilihannya. Dokter berbicara bahwa jika tidak cepat di amputasi penyakit tersebut bisa menjalar. Khawatiran ayah dan keluarganya adalah masa depan Gery. Ia berkata "Saya ikhlas pak". Setelah berfikir dan mendapat persetujuan dari Gery sendiri, salah satu kakinya diamputasi. Namun ia tetap Gery yang semangat meski tanpa satu kaki. Dia menuliskan semangatnya dalam tulisan "AKU SANGAT PERCAYA", yang dimuat sebuah majalah.
Selama beberapa tahun dia menjalani hidupnya seperti itu, tidak pernah patah semangat selalu bisa buat yang lain tersenyum bahkan tertawa terbahak karena tingkahnya yang lucu dan menghibur. Sekitar Oktober 2010 Gery yang kesehariannya selama dia kuliah dia tinggal di rumah kakaknya di Semarang. Kakak Gery bercerita pada bulan tersebut dia batuk dahak dan darah, juga sering merasakan sesak saat nafas, namun dia tetap tegar dan semangat. Ya itulah semangat Gery. Kemudian sekitar Desember 2010 sepulang dia melihat konser J-Rocks di Surabaya, ia sakit dan dioperasi sedot cairan di paru-parunya.
Sepulangnya dari operasi dia masih belum stabil kesehatanya, keluar masuk rumah sakit selama 2 bulan hingga Dokter menganalisa lain. Berdasarkan hasil rontgen pertama, terlihat banyak cairan dan saat di rontgen kembali terlihat benjolan di paru-paru Gery yang di duga sebagai kanker. Pada rontgen pertama tidak terlihat karena tertutup cairan tersebut. Keluarga terkejut karena berfikir setelah kaki alhamrhum di amputasi dia bisa bebas dari penyakitnya. Ternyata waktu satu tahun untuk berfikir itu membuat penyakit kanker itu menularkan ke paru parunya "mungkin Gery (almarum) sudah tau apa yang dia rasakan, mungkin gara gara dia tidak mau melihat saya sedih makanya dia tidak memberitahuku, mungkin dari internet dia browsing dan mencari diagnosa atas apa yg dia rasakan dari penyakitnya" kata ayah Gery. Tidak begitu jelas apa yang di katakan ayahnya tentang cara untuk nyembuhin Gery.
Selasa pagi (02/03/11) Gery meminta Ibunya mengambil air, kemudian mencuci kaki Ibunya dan meminum air bekas kaki Ibu Gery dengan maksud mau meminta maaf atas semua kesalahannya. "Gak usah, Ibu udah maafin kamu kok", kata ibu Gery. Sekitar pukul 12.00 WIB ia pengen bersandar di dada Ayahnya dan sekitar pukul 13.15 WIB Gery menghembuskan nafas terkhirnya di atas dada Ayahnya. "Meninggalnya enak banget kok mas, tiba tiba dia sudah lemas”, jelas Ayahnyanya.
Sebuah kabar (02/03/11) yang aku dengar dengan rasa tidak percaya. Seorang sahabat yang aku kenal dari spirit-nya ‘pergi’ selamanya meninggalkan kita. Seketika terbesit di benakku adalah berangkat menuju rumahnya dan mengantarnya menuju ‘rumah’ terakhirnya. Tapi keadaan yang tidak mendukungku. Aku mengotak-atik semua jadwal keseharianku, mulai dari kerjaan dan yang lain. Aku meminta izin untuk libur, dengan menahan tangis aku memberanikan diri meminta izin.
Alhamdulillah, dengan semangat menggebu-gebu Aku sendirian ke Demak. Tetap ber-spirit. Setibanya di Demak, aku ditemani seorang anggota JRSC Demak. Diantarkan menuju rumah Gery. Setibanya di rumah Gery aku disambut dengan ramah oleh keluarganya. Mereka ramah seperti sosok Gery yang sangat ramah dan baik. . "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," pepatah itu. Setelah acara tahlil kami berdua berbincang-bincang hingga ayah almarhum bercerita. Simak ceritanya di bawah ini :
Gery Sakit
Ceria dan semangat, itulah Gery. Ayahnya bercerita bahwa dia sosok yang tidak mau dikasihani dan tidak mau melihat orang di sekitarnya bersedih. Suatu saat dia sedang kuliah dan kelasnya berada di lantai 3. Dia sedang melangkah susah payah menuju kelasnya dengan memakai tongkat. Teman-temannya yang bermaksud membantu. Ia menolak, "Maaf, saya bisa sendiri,” sambil memamerkan senyum khasnya.
Dia divonis Dokter menderita osteosarkoma atau kanker tulang. Satu-satunya jalan untuk untuk menyembuhkan ialah amputasi. Pihak keluarga berfikir selama satu tahun untuk memutuskan pilihannya. Dokter berbicara bahwa jika tidak cepat di amputasi penyakit tersebut bisa menjalar. Khawatiran ayah dan keluarganya adalah masa depan Gery. Ia berkata "Saya ikhlas pak". Setelah berfikir dan mendapat persetujuan dari Gery sendiri, salah satu kakinya diamputasi. Namun ia tetap Gery yang semangat meski tanpa satu kaki. Dia menuliskan semangatnya dalam tulisan "AKU SANGAT PERCAYA", yang dimuat sebuah majalah.
Selama beberapa tahun dia menjalani hidupnya seperti itu, tidak pernah patah semangat selalu bisa buat yang lain tersenyum bahkan tertawa terbahak karena tingkahnya yang lucu dan menghibur. Sekitar Oktober 2010 Gery yang kesehariannya selama dia kuliah dia tinggal di rumah kakaknya di Semarang. Kakak Gery bercerita pada bulan tersebut dia batuk dahak dan darah, juga sering merasakan sesak saat nafas, namun dia tetap tegar dan semangat. Ya itulah semangat Gery. Kemudian sekitar Desember 2010 sepulang dia melihat konser J-Rocks di Surabaya, ia sakit dan dioperasi sedot cairan di paru-parunya.
Sepulangnya dari operasi dia masih belum stabil kesehatanya, keluar masuk rumah sakit selama 2 bulan hingga Dokter menganalisa lain. Berdasarkan hasil rontgen pertama, terlihat banyak cairan dan saat di rontgen kembali terlihat benjolan di paru-paru Gery yang di duga sebagai kanker. Pada rontgen pertama tidak terlihat karena tertutup cairan tersebut. Keluarga terkejut karena berfikir setelah kaki alhamrhum di amputasi dia bisa bebas dari penyakitnya. Ternyata waktu satu tahun untuk berfikir itu membuat penyakit kanker itu menularkan ke paru parunya "mungkin Gery (almarum) sudah tau apa yang dia rasakan, mungkin gara gara dia tidak mau melihat saya sedih makanya dia tidak memberitahuku, mungkin dari internet dia browsing dan mencari diagnosa atas apa yg dia rasakan dari penyakitnya" kata ayah Gery. Tidak begitu jelas apa yang di katakan ayahnya tentang cara untuk nyembuhin Gery.
Selasa pagi (02/03/11) Gery meminta Ibunya mengambil air, kemudian mencuci kaki Ibunya dan meminum air bekas kaki Ibu Gery dengan maksud mau meminta maaf atas semua kesalahannya. "Gak usah, Ibu udah maafin kamu kok", kata ibu Gery. Sekitar pukul 12.00 WIB ia pengen bersandar di dada Ayahnya dan sekitar pukul 13.15 WIB Gery menghembuskan nafas terkhirnya di atas dada Ayahnya. "Meninggalnya enak banget kok mas, tiba tiba dia sudah lemas”, jelas Ayahnyanya.
Ayah Gery berterimakasih kepada J-Rockstars Indonesia yang sudah mendoakan dan mohon dimaafin kalau Gery punya salah.
Submitted by Hendri J.A ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )
Submitted by Hendri J.A ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )



